Pendahuluan
Aktivitas seksual—termasuk masturbasi—merupakan bagian alami dari kesehatan manusia di setiap tahap usia. Pada masa lanjut usia, pilihan untuk tetap melakukannya atau berhenti dapat berdampak pada kondisi fisik dan emosional, meski sering kali tidak disadari. Ini bukan soal “wajib” atau “tidak wajib”, melainkan memahami kemungkinan efek ketika tidak ada stimulasi seksual serta cara menyeimbangkannya lewat kebiasaan hidup yang sehat.
1. Perubahan pada sirkulasi darah
Stimulasi seksual umumnya membantu meningkatkan aliran darah, terutama di area panggul. Jika tidak ada aktivitas seksual sama sekali, sebagian orang bisa mengalami berkurangnya sirkulasi di wilayah tersebut. Namun, hal ini tidak otomatis berarti terjadi masalah serius, terlebih bila tetap menjaga kebugaran melalui olahraga ringan, berjalan kaki setiap hari, atau aktivitas fisik rutin lainnya.
2. Penurunan tonus otot dan kekuatan panggul
Secara tidak langsung, aktivitas seksual dapat membantu menjaga keterlibatan otot-otot dasar panggul. Ketika rangsangan ini tidak ada, tonus otot panggul dapat menurun pada beberapa orang. Dalam kondisi tertentu, penurunan kekuatan ini bisa berkontribusi pada keluhan seperti gangguan berkemih atau berkurangnya kontrol sfingter.

3. Dampak pada emosi dan kesehatan mental
Keintiman—baik bersama pasangan maupun dengan diri sendiri—dapat menurunkan stres, memicu pelepasan endorfin, dan mendukung suasana hati yang lebih stabil. Sebaliknya, tidak adanya aktivitas seksual secara total pada sebagian individu dapat berkaitan dengan meningkatnya rasa kesepian, cemas, atau sedih. Meski demikian, respons ini sangat bervariasi tergantung pengalaman, kondisi psikologis, dan dukungan sosial masing-masing orang.
4. Kesehatan hormonal seiring bertambah usia
Memasuki usia lanjut, tubuh memang mengalami penurunan hormon seksual secara alami, seperti testosteron dan estrogen. Aktivitas intim, termasuk masturbasi, bisa memicu pelepasan hormonal dalam jumlah kecil yang berperan pada rasa nyaman dan kesejahteraan. Tanpa stimulasi tersebut, sebagian orang mungkin merasakan perubahan hormonal lebih “terasa”. Kabar baiknya, hal ini umumnya dapat ditopang melalui pola makan seimbang dan aktivitas fisik teratur.
5. Alternatif sehat jika tidak melakukan masturbasi di usia lanjut
Tidak melakukan masturbasi pada usia lanjut—baik karena pilihan pribadi, keyakinan, maupun kondisi kesehatan—bukan berarti seseorang pasti akan jatuh sakit. Yang terpenting adalah menjaga faktor-faktor lain yang mendukung kualitas hidup, seperti:
- Menjaga olahraga rutin sesuai kemampuan (misalnya jalan kaki, latihan kekuatan ringan).
- Mengutamakan pola makan bergizi, termasuk protein, buah, dan sayuran.
- Menciptakan ruang untuk keintiman dan afeksi, baik dalam hubungan pasangan maupun melalui relasi sosial yang hangat.
- Menerapkan teknik relaksasi seperti meditasi, pernapasan, atau yoga.
Kesimpulan
Tidak masturbasi di usia lanjut bukanlah sesuatu yang “mematikan” dan tidak selalu berbahaya. Namun, keputusan tersebut dapat membuat seseorang kehilangan sebagian manfaat yang terkait dengan sirkulasi darah, suasana hati, dan kesehatan otot panggul. Kuncinya adalah mempertahankan gaya hidup sehat untuk mengimbangi minimnya stimulasi seksual, serta—bila diinginkan—mencari cara yang aman dan nyaman untuk tetap membangun keintiman di usia berapa pun.
Peringatan penting
Artikel ini bersifat informatif dan bukan pengganti nasihat medis. Jika Anda memiliki pertanyaan tentang kesehatan seksual, perubahan fungsi tubuh di usia lanjut, atau keluhan tertentu, sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga profesional seperti dokter urologi atau ahli seksologi.


