Campbell’s Soup Hadapi Tantangan Serius
Campbell’s Soup, yang selama hampir dua abad menjadi produk andalan di dapur keluarga Amerika, kini berada dalam situasi genting dan terancam tutup. Perusahaan legendaris ini kesulitan beradaptasi dengan perubahan selera konsumen, yang semakin memilih makanan alami dan minim proses dibandingkan produk olahan tradisional Campbell’s.
Perubahan Selera Konsumen dan Dampaknya
Dalam beberapa tahun terakhir, tren makanan sehat dan “clean label” membuat banyak konsumen menjauh dari makanan kalengan dan produk olahan berat. Posisi Campbell’s yang selama ini bertumpu pada sup kaleng dan produk kemasan klasik menjadi lemah, karena dianggap kurang sesuai dengan tren makanan segar, organik, dan minim bahan tambahan.
Strategi Akuisisi dan Beban Utang $9 Miliar
Untuk mempertahankan relevansi di pasar, Campbell’s mencoba memperluas portofolio produknya melalui serangkaian akuisisi. Namun, langkah ekspansi agresif ini meninggalkan konsekuensi berat: perusahaan kini menanggung utang sekitar 9 miliar dolar AS. Beban keuangan besar tersebut menekan kinerja dan membatasi ruang gerak Campbell’s untuk berinvestasi dalam inovasi dan transformasi bisnis.

Persaingan Internal: Keluarga Dorrance vs. Investor Aktivis
Masalah Campbell’s tidak hanya datang dari luar, tetapi juga dari konflik di dalam perusahaan. Keluarga Dorrance, yang menguasai sekitar 40% saham Campbell’s, tengah berseteru dengan investor aktivis Daniel Loeb dari Third Point, yang memiliki sekitar 7% saham.
Loeb menuntut perubahan besar-besaran, termasuk:
- Rebranding perusahaan
- Mengubah desain ikonik kaleng merah dan putih Campbell’s
- Mengarahkan ulang strategi bisnis untuk mengatasi penurunan penjualan
Ketegangan ini berkembang menjadi sengketa hukum, dengan tuduhan adanya salah kelola (mismanagement) dalam tubuh perusahaan.
Langkah Terbaru: Masuknya Perwakilan Third Point ke Dewan
Sebagai bagian dari upaya meredakan konflik dan menyelamatkan masa depan perusahaan, Campbell’s baru-baru ini setuju untuk menunjuk dua anggota dewan direksi yang diajukan oleh Third Point. Keputusan ini menjadi sinyal bahwa perubahan penting mungkin akan segera terjadi, baik dari sisi strategi merek maupun arah bisnis.
Di tengah tekanan utang besar, perubahan pola konsumsi, dan pertarungan kekuasaan internal, Campbell’s Soup kini berada di titik kritis saat berjuang untuk bertahan hidup di era baru industri makanan.


